Alan Soffan Berhasil Meraih Gelar PhD Dalam Sidang Desertasi

Ppmiriyadh.com – Alan Soffan M.Sc, mahasiswa asal Indonesia Jurusan Plant Protection di King Saud University yang beberapa bulan lalu meraih juara 2 dalam KSU Awarad for Science Excellence kembali berhasil meraih prestasinya dengan melaksanakan sidang disertasinya untuk meraih gelar PhD yang berjudul “How Do INSECT Smell? (Bagaimana Serangga Mencium Bau?): Molecular and functional characterization of major odorant receptors involved in Red palm weevil, Rhynchoporus Ferrugineus (Oliver), aggregation pheromone reception”. Sidang tersebut dilaksanakan di aula utama College of Food and Agriculture Sciences pada hari Selasa 15 November 2016 pukul 10:00 WSA. Dengan tiga orang supervisor yaitu Prof. Abdulrahman S. Al Dawood, Dr. Binu Antony, dan Prof. Soleh A. Al- Dosari. Dihadiri pula oleh para mahasiswa KSU, baik yang berasal dari Indonesia maupun negara lain. Dan dalam pelaksanaan sidang tersebut tersedia makanan-makanan khas Indonesia yang lezat. Atas izin Allah SWT, disertasi tersebut berhasil dan diterima “Alhamdulillah sidang berjalan lancer dan diterima, tinggal revisi penulisan” tuturnya terhadap para mahasiswa Indonesia di KSU.

whatsapp-image-2016-11-16-at-3-46-39-pm

Berikut sekilas wawancara yang kami lakukan dengan beliau seputar sidang disertasi yang telah dilaksanakan:

Bisa dijelaskan gambaran umum dari disertasi Pak Alan?

Gambaran singkatnya, penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi/menemukan gen-gen yang terekpresi di organ penciuman serangga yang disebut antena (mirip antena yang umumnya kita tahu dan terletak di bagian kepala serangga). Bidang ini disebut sebagai “transcriptomic study”, dimana kita menggunakan teknologi terkini yang disebut next generation sequencing (NGS) Illumina Hi-Seq. Studi ini berhasil mengungkap (pada level molekular) mekanisme bagaimana serangga bisa memiliki kemampuan untuk mencium suatu bau yang bisa berjarak bermeter-meter jauhnya. Itu adalah bagian pertama, bagian kedua, disertasi ini mencoba menjawab pertanyaan seberapa pentingnya indera penciuman bagi serangga, lewat metode terkini yang disebut “gene silencing” yang dibahasa indonesiakan sebagai “pembungkaman gen”, yaitu suatu metode untuk mencegah gen agar bisa terekspresi dalam rangka tujuan-tujuan tertentu. Dengan metode “gene silencing”, study ini mencoba mentarget sebuah gen yang dianggap paling essensial dalam rangkain kompleks proses penciuman oleh serangga yg disebut gen “Orco”. Hasilnya sangat menarik, karena hanya dengan membungkam satu gen saja yaitu gen “Orco”, kemampuan serangga untuk membau betul-betul terganggu secara signifikan.

Dari disertasi ini, kira-kira manfaat apa yang bisa kita dapatkan?

Penelitian disertasi ini menggunakan serangga yang disebut Rhynchophorus ferrugineus atau red palm weevil, sangat mirip dengan wang-wung (bhs. jawa) di indonesia. Di saudi arabia serangga ini menyerang tanaman kurma sehingga menjadi momok bagi petani kurma, karena tanaman kurma bisa tumbang sehingga tidak bisa memanen hasilnya. Penelitian disertasi ini telah berhasil meletakan pondasi keilmuan dan teknologi terkait upaya pengendalian populasi serangga “wang wung” yang menyerang tanaman kurma yaitu dengan menganggu kemampuan indera penciumannya, karena dengan mengganggu indera penciuman, sederhananya, maka serangga tersebut tidak akan bisa menemukan dan menyerang tanaman kurma. Tentu saja penelitian-penelita lanjutan masih sangat perlu dilakukan supaya bisa diaplikasikan di level petani kurma. Kedepan teknologi ini sangat memungkinkan untuk diterapkan di serangga-serangga pengganggu lainnya di tanaman apapun, sehingga potensi kemanfaatan di indonesia yang terkenal dengan bidang pertaniannya akan sangat terbuka.

Apakah sidang kemarin sudah resmi mendapatkan gelar, atau ada proses lagi yang harus ditempuh?

Sidang kemarin memutuskan untuk menerima penelitan disertasi nya dan dianggap layak untuk mendapatkan gelar PhD, tentu setelah beberapa revisi minor terkait penulisan yang harus dipenuhi.

Gimana kesan, pesan, dan motivasi dari semua hasil yang Pak Alan dapatkan ini?

Penelitian ini memakan waktu sekitar 3 tahun dan melibatkan beberapa institusi luar negeri dan tentu dengan pendanaan yang tidak sedikit. Disini kita bisa melihat bahwa pengembangan suatu ilmu pengetahuan butuh keseriusan beberapa pihak, tidak bisa sekarang ini kita menjadi “superhero” bergerak sendirian, teamwork dan kolaborasi itu kuncinya. Dalam perspektif pribadi, maka, menjadi bagian dari teamwork yang diandalkan adalah sebuah kemampuan yang harus dilatih setiap waktu. Nah kemampuan ini tidak bisa didapat secara isntan, ada begitu banyak orang-orang disekitar kita yang secara langsung dan tidak langsung, sedikit atau banyak telah membentuk karakter atau kemampuan ini. Jadi akhirnya sangat relevan pesan “sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain” karena manfaat itu akan kembali ke kita lagi.. bahkan bisa jadi lebih banyak.

Segenap keluarga besar PPMI Riyadh mengucapkan Baarakallah terhadap prestasi yang diiraih beliau. Semoga dapat memberikan manfaat besar baik bagi umat maupun bangsa Indonesia.

(PPMI Riyadh/Media dan Informasi)

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: