Biarkan Batik Anda Menyapa Dunia

Oleh: Andi Subhan Husain  (Student at Faculty of Law and Political Science, King Saud University)

Ppmiriyadh.com – Pendahuluan; Indonesia Negara Fakir atau Kaya?

Beberapa waktu yang lalu, terjadi diskusi yang cukup alot di kelas setelah mengkaji sebuah teks Reading yang berjudul “Resesi Ekonomi dan Pengangguran” dari kitab Al-‘Arabiyatu Lil ‘Alam. Kitab ini adalah buku panduan utama pembelajaran bahasa di Arabic Linguistics Institute, King Saud University. Mata kuliah diskusi atau percakapan diajarkan oleh seorang doktor pakar Linguistik Terapan, selain belajar di Saudi Arabia juga pernah belajar ilmu bahasa di Kanada dan Jerman. Secara ringkas, beliau menyebutkan diantara negara maju dan berkembang adalah di kawasan Amerika dan Eropa seperti Prancis, Jerman, Inggris, sebagian negara di kawasan Asia seperti Jepang, Korea, China, Malaysia dan lain-lain. Selanjutnya, beliau menyebutkan bahwa adapun negara-negara kategori berkembang terbelakang masih dalam kategori fakir yaitu sebagian besar berada di Afrika dan Asia seperti Ethiopia, Nigeria, Afrika Tengah, Somalia, Bangladesh, India, Pakistan, Indonesia, dan lain-lain.

Indonesia disebut sebagai Negara fakir, saya langsung terhentak. Indonesia adalah Negara yang memilliki pertambangan emas terbesar  dengan kualitas emas terbaik di dunia yaitu PT Freeport. Pertambangan ini telah menghasilkan lebih dari 7 juta ton tembaga dan lebih dari 700 juta ton emas. Bahkan, ketika emas dan tembaga mulai menipis, di bawanya masih ada uranium yang harganya 100 kali lebih mahal dari emas. Apa Negara yang seperti ini disebut fakir?

Akhirnya, sebagai salah satu delegasi Indonesia di Timur Tengah saya harus kembali mengevaluasi diri. Karena kita tidak sedang membawa diri sendiri, tapi sedang membawa nama negara yang penduduk muslimnya terbesar pertama di dunia. Saya harus belajar menyapa dunia meski secara sederhana tapi elegan. Belajar mengangkat nilai jual produk lokal Indonesia pada kancah internasional. Dan paling penting adalah harus belajar untuk menjadi seorang duta negara yang beradab, agar menjadi ciri khas warga negara Indonesia.

 

Biarkan Batik Anda Menyapa Dunia

Pada saat masih tercatat sebagai mahasiswa di sekolah bisnis dan management tahun 2011, saya mendapat undangan mengikuti Boot-Camp Training Program Ethics for Entrepreneur di Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. Sejak mengikuti program tersebut dan bergaul dengan para pengusaha baik yang tua maupun yang muda, saya membawa pulang sebuah mindset tersendiri tentang makna kesuksesan dan kesederhanaan. Setelah menyapa beberapa orang dengan komunikasi verbal dan non verbal, sungguh saya menemukan bahwa penampilan khususnya cara berpakaian menunjukkan kepribadian seseorang. Pakaian bukan hanya berfungsi untuk menutupi dan melindungi tubuh. Tetapi, pakaian menjadi sebuah identitas bagi si pemakainya. Pakaian andalah yang akan banyak menyapa orang sekitar. Pakaianlah yang akan memperkenalkan siapa diri anda tanpa harus bercerita panjang lebar. Agus M. Hardjana dalam bukunya Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal menyebutkan bahwa komunikasi sehari-hari 35% berupa komunikasi verbal dan 65% berupa komunikasi non verbal.

Beberapa bulan setelah mengikuti program tersebut, saya menemukan sebuah wasiat dari seorang guru ketika belajar di sebuah Pondok, yaitu wasiat dari Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab dalam suratnya yang masyhur, didalamnya tertulis: “Jauhilah oleh kalian hanyut dalam kemewahan dan senang berhias dengan mode orang asing, bersikaplah dewasa, dan berpakaianlah secara sederhana (tidak mewah)…” Dan “Kesederhanaan termasuk sebagian dari iman.” (HR. Abu Dawud).

Dan hari ini, terkhusus bagi anda yang mendapat kesempatan menyapa manusia dari berbagai belahan dunia. Baik dalam rangka belajar maupun bekerja. Tentu, kita tidak bisa menyapa mereka semua dengan kata-kata. Biarkanlah batik anda menyapa setiap orang yang anda temui. Ya, biarkanlah batik anda menyapa dunia. Batik anda akan menyampaikan pesan bahwa anda adalah orang Indonesia. Biarkan setiap corak/motif batik yang anda kenakan menyisakan nilai-nilai estetika, artistik, dan memesona bagi setiap orang yang memandangnya. Bukan memandang diri pribadi anda, tapi memandang Indonesia. Bukankah batik itu adalah salah satu jenis pakaian yang tetap mempertahankan nilai-nilai kesederhanaan, nilai-nilai lokal tapi tetap elegan.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk membaca do’a ketika mengenakan pakaian sebagaimana yang terdapat dalam Hishnul Muslim Min Adzkaari Al-kitaab wa As-Sunnah. Yaitu; Alhamdulillahilladzii kasaanii haadzaa ats-tsaub wa razaqoniihi min ghairi haulin minnii walaquwwah. Artinya; segala puji bagi Allah yang memberi pakaian ini kepadaku sebagai rezeki daripada-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku.” (HR. seluruh penyusun kitab sunan, kecuali Nasai). Adapun do’a ketika mengenakan pakaian baru, yaitu ; “Allahumma lakal hamdu anta kasawtaniihi. As-aluka min khoirihi wa khoiri maa shuni’a lah, wa a’udzu bika min syarrihi wa syarri maa shuni’a lah. Artinya: Ya Allah, hanya milik-Mu lah segala pujian. Engkaulah yang memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepada-Mu agar memperoleh kebaikan dari pakaian ini dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang diciptakan karenanya.

Abu Nashroh mengatakan, “Biasanya sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika melihat salah seorang sahabat mengenakan pakaian baru mereka mengatakan padanya, “Tubliy wa yukhlifullahu Ta’ala. Artinya: Kenakanlah sampai lusuh. Semoga Allah Ta’ala memberikan gantinya ke-padamu.” Semoga do’a-do’a ini bisa kita amalkan. Wallahu Waliyyut Taufiq.

 

Karena Anda Marketer Kelas Dunia

Menurut anda, apa jawaban atas pertanyaan pada pendahuluan; Indonesia Negara fakir atau kaya? Tentu, warga Indonesia sendiri pun akan muncul perdebatan dalam menjawabnya karena masing-masing memiliki alasan. Jika ditinjau dari segi angka-angka yang dikeluarkan oleh pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup siginifikan.  Dari sudut ini  Indonesia tidak bisa disebut miskin karena ada angka yag menunjukkan bahwa ada pertumbuhan.  Tapi apakah seperti itu faktanya?

Pada kesempatan ini, tentu penulis tidak akan fokus untuk menganalisis persoalan ini. Tapi, fokus pada apa kontribusi kita untuk Indonesia di luar negeri. Hal ini selalu menjadi nasihat dan motivasi dari Bapak Dr. Abdurrahman Muhammad Fachir, M.A. sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Saudi Arabia (2014) pada berbagai kesempatan pertemuan dengan beliau dalam acara PPMI. Begitupun motivasi yang disampaikan oleh Bapak Drs. Muhammad Ramli, M.Pd sebagai Kepala Sekolah Indonesia Riyadh bahwa kita harus siap memberi kontribusi untuk Indonesia, minimal berbagi ilmu dan inspirasi untuk pelajar Indonesia di Saudi Arabia.

Berdasarkan pengamatan saya, ditinjau dari studi kelayakan dan analisis SWOT secara sederhana bahwa Saudi Arabia menjanjikan ruang pasar yang masih virgin. Jika seseorang memiliki naluri entrepreneurship yang kuat maka akan mencium aroma bahwa di tempat ini sangat berpeluang untuk memasarkan sebuah produk yang mana kata kompetisi menjadi tidak relevan. Kim W. Chan dan Renee Mauborgne menyebutnya dengan  Blue Ocean Strategy, yaitu berfokus pada menumbuhkan permintaan dan menjauh dari kompetisi dengan menciptakan suatu nilai dan keunikan yang tidak sembarang unik.

Pertama kali berangkat ke Saudi Arabia, saya melihat senior membeli baju batik dan katanya itu pesanan dari temannya orang Afrika. Sejak saat itu, naluri bisnis saya bekerja dan mulai mencium ada aroma pasar di sana. Namun, dengan alasan tertentu saya belum menyiapkan diri untuk kembali terjun dan mencicipi hidangan pasar. Hal sederhana yang bisa saya dan anda lakukan saat ini adalah belajar untuk memperkenalkan dan memasarkan produk lokal Indonesia. Minimal memperkenalkan batik yang anda kenakan. Karena anda adalah marketer kelas dunia.

 

Penutup; Menjadi Duta Berdab

Indonesia negara fakir atau kaya? Setiap kita tentu punya jawaban dan alasan masing-masing, tapi tentu kita semua sepakat bahwa menumbuhkan rasa percaya diri dalam pergaulan khususnya di kancah internasional sangatlah penting. Menjadi penting untuk memberi perhatian khusus pada penampilan dengan catatan bahwa pakaian tersebut harus tetap menyesuaikan dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya kemudian menyesuaikan dengan momentum waktu dan tempat di mana kita berada. Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik. Hal itu semua merupakan ayat-ayat Allah, supaya mereka berdzikir mengingat-Ku.” (QS. al-A’raf : 26). Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat di atas, “Allah telah memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya berupa pakaian dan raisy (pakaian indah). Pakaian digunakan untuk menutup aurat, dimana hal ini merupakan perkara yang wajib; sedangkan raisy digunakan untuk perhiasan, dimana hal ini merupakan penyempurna dan tambahan.”

Biarkan batik anda menyapa dunia. Tapi, jangan sampai kita terkesan mewah dan menyombongkan diri dengan pakaian. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meninggalkan suatu pakaian dengan niat tawadhu’ karena Allah, sementara ia sanggup mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, lantas ia diperintahkan untuk memilih perhiasan iman mana saja yang ingin ia pakai.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Biarkan batik anda menyapa dunia. Tapi, kita tetap bisa melihat momentum karena jangan sampai menjadi pakaian syuhrah (sensasional) menjadi pusat perhatian. Baik karena jenis pakaian tersebut sangat mewah, atau sangat berbeda dengan kebanyakan orang, atau pakaian tersebut sudah sangat lusuh dan compang-camping, atau pakaian tertentu yang dipakai agar menjadi terkenal. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memakai pakaian syuhrah, maka Allah akan memakaikan pakaian yang serupa pada hari kiamat nanti. Kemudian, dalam pakaian tersebut akan dinyalakan api Neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Karena anda marketer kelas dunia. Maka menumbuhkan sikap optimis dan rasa percaya diri dalam pergaulan akan sangat menentukan tapi tidak terkesan memalukan. Ciri khas warga negara Indonesia yang ramah, teduh, sopan, intinya perilaku baik harus tetap dilestarikan, tidak terpengaruh dengan budaya negara lain. Seperti kata Bapak Dubes, “Jangan sampai anda lebih Arab daripada orang Arab”. Karena anda seorang marketer kelas dunia. Maka harus mengenal dan mempelajari segmen pasar atau lingkungan dan pandai menyesuaikan diri, selalu mendahulukan positif thinking terhadap orang lain. Seorang marketer handal Have a good appearance. Calon client bisa muncul di mana dan kapan saja, maka kesan pertama dari penampilan akan sangat menentukan pada pertemuan selanjutnya. Dan menjadi catatan penting bahwa produk atau jasa yang anda tawarkan pada hakikatnya adalah Indonesia sebagai representasi masyarakat muslim terbesar di dunia.

Muhammad Syafi’i Antonio pakar Ekonomi Syariah Indonesia mengatakan : Rasulullah memberikan pelajaran bahwa Bbisnis harus dijalankan dengan value driven yang bermanfaat untuk semua stake holders dan harus gesit dalam melakukan positioning di pasar global. Beliau bukan jago kandang seraya meminta proteksi cukai dan tax holiday.

Terakhir, saya kembali melanjutkan salah satu respon teman kelas dari Turki setelah mendengarkan penjelasan dosen tentang tiga klasifikasi pembangunan sosial di dunia; Negara Maju (World Social Development Leaders), Negara Berkembang Menengah (Middle Performing Countries), dan Negara Berkembang Terbelakang (Socially Least Developing Countries) kemudian menyebutkan Indonesia sebagai negara fakir. Teman kelas yang juga pernah belajar politik Timur Tengah di Turki ini menyebutkan beberapa data dan fakta mengapa sebagian besar negeri kaum muslimin menjadi terbelakang padahal Islam pernah menguasai dua pertiga belahan dunia. Sebuah pertanyaan yang serupa dari judul sebuah buku terkenal karya Amir Syakib Arsalan yang ditulis pada awal abad ke dua puluh. “Mengapa Kaum Muslimin Mundur Dan Kaum Selainnya Maju?” Tulisan tersebut merupakan hasil analisa beliau atas kondisi terpuruk dan terpecah-belahnya umat Islam pada masa itu. Setelah hampir satu abad berlalu, ternyata hal tersebut masih saja menjadi realitas kaum muslimin hingga hari ini. Amir Syakib Arsalan merumuskan lima jawaban atas judul bukunya. Yaitu :1. Jauh dari Kitabullah Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. 2. Hilangnya tsiqoh (kepercayaan) terhadap Islam—inhizamun dakhily (inferior/Rendahnya rasa percaya diri).3. At-Taqlid (mengekor secara mambabi buta). 4. At-Tafriqoh (perpecahan). 5. Tertinggal dalam berbagai urusan dunia. Wallahu ‘Alam, Wallahu Waliyyut Taufiq.

(Tulisan ini pernah diterbitkan di Majalah Pendidikan Pena Atase Pendidikan KBRI Riyadh, Arab Saudi)

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: