Dua Doktor Baru Asal Indonesia di King Saud University

Ppmiriyadh.com – Alhamdulillah atas izin Allah SWT, dalam sidang desertasi pekan lalu, terdapat dua orang mahasiswa Indonesia di King Saud University yang telah berhasil meraih gelar doktor (PhD). Mereka adalah Sukirno asal Klaten, Jawa Tengah dan Aghus Sofwan asal Semarang, Jawa Tengah. Sukirno adalah mahasiswa S3 Fakultas Pertanian jurusan Plant Protection sedangkan Aghus Sofwan adalah mahasiswa S3 Fakultas Komputer dan Sains Informasi jurusan IT.

cas
foto bersama Sukirno (sebelah kanan)

Sukirno menyampaikan desertasi yang berjudul “Comparative Morphometric and Molecular Studies of Read Palm Weevils (Coleoptera Curculionidae -red: kumbang moncong merah) from Saudi Arabia and Indonesia”, pada hari Selasa (10/5), pukul 09:00 WSA secara tuntas dihadapan para penguji. Dalam wawancara yang dilakukan media PPMI Riyadh, beliau menjelaskan “Invasi kumbang moncong merah kurma (Coleoptera: Curculionidae) di negara Saudi Arabia dengan pendekatan morfologi dan genetika molekular meliputi 9 provinsi, antara lain; Eastern Province, Riyadh, Najran, Alqassim, Alha’il, Tabuk, Madinah, Makkah, dan Albahah. Sampai saat ini hanya 9 provinsi (dari 13 provinsi di Saudi Arabia) yang diketahui bahwa ada kurma yang rusak karena hama ini. Hasilnya menunjukkan bahwa di Saudi Arabia hanya ada 1 spesies kumbang moncong yaitu Rhynchophorus ferrugineus dengan 18 morfologi yang berbeda. Data diversitas morfologi dan molecular dengan barcoding DNA menunjukkan bahwa Provinsi Riyadh dan Eastern Province merupakan diversity hotspots hama tersebut. Kita juga berhasil mendeposit kekayaan genetik hama ini di BOLD data system dalam jumlah yang cukup besar (297 sequence) sebagai representasi provinsi-provinsi di Saudi Arabia. Dengan database ini harapannya kita bisa mendeteksi /memperkirakan asal hama tersebut ketika ada temuan di proses karantina”.

“Kita juga mempelajari diversitas hama yang “sama” di Indonesia”, lanjutnya. “Meliputi sampel dari 6 pulau: Sumatra, Jawa, Madura, Bali, Sulawesi, dan Papua Barat. Dengan pendekatan yang sama, di Indonesia ada 2 spesies: Rhynchophorus vulneratus (meliputi 30 variasi morfologis) dan Rhynchophorus bilineatus (4 variasi morfologis). Ada sampel dari R. vulneratus yang dulu dianggap sama dengan R. ferrugineus karena ciri morfologi yang mirip. Namun, hasil studi molekular mengkonfirmasi bahwa spesimen tersebut tidaklah sama”.

efe

Sedangkan Aghus Sofwan menyampaikan desertasinya secara tuntas pula pada hari Kamis (12/5) pukul 14:00 WSA dihadapan para pengujinya dengan judul “An Efficient Fair Medium Access Control (MAC) Protocol for Cognitive Radio Ad Hoc Network” (MAC protocol pada jaringan radio kognitif Ad Hoc). Dalam disertasi ini beliau menjelaskan “MAC protocol adalah aturan di dalam sistem komunikasi. Protokol ini antara lain mengatur mekanisme dalam menentukan siapa yang diajak komunikasi, kapan orang boleh berkomunikasi, dan mengatur (data) pembicaraannya seperti apa. Sementara itu dalam komunikasi dewasa ini, secara umum peralatan yang tanpa menggunakan kabel (wireless), misal mobile phone dan pemancar radio, masing-masing sudah mempunyai jalannya (frekuensi) sendiri-sendiri. Tiap aplikasi tidak boleh memakai jalannya orang lain. Namun dengan perkembangan teknologi wireless yang begitu pesat, pengaturan jalan yang sudah tertentu tersebut menjadi tidak relevan, sehingga muncul teknologi jaringan radio kognitif yang memungkinkan sebuah peralatan komunikasi bisa menggunakan jalan (frekuensi) orang lain. Oleh karena itu perlu protocol untuk mengatur komunikasi di jaringan yang membolehkan sebuah peralatan/aplikasi bisa menggunakan jalannya aplikasi komunikasi lainnya”.

Kami selaku pengurus dan keluarga besar PPMI Riyadh mengucapkan selamat dan baarakallah fiikum atas hasil yang telah diraih oleh saudara Sukirno dan Aghus Shofwan. Semoga apa yang telah di dapat dapat bermanfaat untuk ummat, bangsa, dan dunia.

(PPMI Riyadh/Departemen Media)

 

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: