Kebangkitan Politik Islam di Indonesia; Menantang Imajinasi Allan Nairn

Oleh: Andi Subhan Husain*
(Student at College of Law and Political Science, King Saud University)

Dalam sebuah wawancara, Allan Nairn (jurnalis investigasi asal Amerika) menyebutkan bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis politik yang mana adanya upaya kudeta terhadap pemerintahan sah Presiden Jokowi melalui kasus penistaan agama oleh Ahok. Pernyataan ini jelas berangkat dari seorang yang tidak mengerti Indonesia hari ini apalagi karakteristik pemeluk Islam di Nusantara. Jelas bahwa ia berangkat dari rangkaian imajinasi yang diwariskan Marsilius of Padua (1275-1342 M) seorang pemikir dari Italia yang berpemikiran bahwa agama harus dipisahkan dari negara dan politik atau N. Machiavelli (1469-1527 M) seorang politisi Italia yang sangat terkenal dan juga berpemikiran bahwa agama dan akhlak harus dipisahkan dari politik.

Kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok justru menjadi salah satu pemicu persatuan dan kebangkitan ummat Islam di Indonesia. Generasi muda Islam menjadi sadar tentang arti penting beragama. Secara khusus arti penting untuk memahami kandungan al-Qur’an yang senantiasa dijaga oleh Allah. Selain itu, salah satu dampaknya pada partisipasi aktif dalam berpolitik. Contoh sederhananya, seorang pemuda yang tadinya apatis dengan yang namanya pemilu menjadi begitu antusias untuk ikut terlibat. Perhatikanlah bagaimana para santri asal Jakarta yang sedang mondok jauh dari kotanya rela untuk berbondong-bondong pulang memberikan hak suaranya. Perhatikanlah bagaimana orang-orang kaya dermawan membayarkan tiket mereka yang sedang berada di luar Jakarta, punya hak pilih tapi tidak bisa pulang karena alasan keuangan. Perhatikanlah bagaimana keikhlasan ummat Islam yang bercucuran air mata mendokan kebaikan untuk negeri ini. Mungkin sebelumnya mereka sempat lupa untuk mendoakan negeri ini, tapi kini do’a-do’a mereka saling berpadu menembus langit ke tujuh.

Selanjutnya masa depan Indonesia bisa diprediksi jika pemuda muslim yang berkualitas menjadi peduli dengan politik, tentu menjadi semakin cinta dan peduli terhadap maslahat negeri ini kepada arah yang lebih baik. Tidak bisa dinafikan dan dibendung lagi akan muculnya fase kabangkitan politik Islam di Indonesia. Para generasi pemimpin muda muslim mulai bermunculan di setiap sudut negeri. Generasi pemimpin pada berbagai bidang, mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi hingga politik. Bahkan jika Indonesia di beri kesempatan untuk menjadi anggota Dewan Keamanan PBB di masa depan, maka akan membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia sanggup untuk memperjuangkan penghapusan penjajahan yang terjadi di muka bumi ini secara khusus di negeri-negeri kaum muslimin. Indonesia sanggup menjadi pemimpin perdamaian dunia menjalankan amanat konsititusi. Bukan malah menjadi provokator perang dunia. Hanya orang-orang yang tidak paham karakteristik ummat Islam di Nusantara yang berani berimajinasi seperti imajinasi Allan Nairn, hendak meciptakan konflik dengan adu domba dalam sebuah negeri yang penuh dengan kedamaian. Singkatnya, karakter masyarakat Nusantara sama sekali tidak bisa disamakan dengan karakter masyarakat Arab. Jika sebagian wilayah Arab berhasil diprovokasi untuk berperang, maka jangan pernah bermimpi untuk melakukan hal yang sama di wilayah Nusantara.

Sejarah telah mencatat bahwa rakyat, ulama dan militer tidak bisa dipisahkan dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dan rakyat Indonesia tidak akan pernah melupakan catatan kelam orang-orang komunis yang telah membantai para ulama dan militer. Maka bagaimana mungkin mereka berniat untuk memberontak dalam pemerintahan yang sah. Sementara para ulama negeri inilah yang senantiasa mengajarkan untuk mewujudkan kemaslahatan ummat dan mencegah kemudharatan. Para ulamalah yang mengajarkan untuk mentaati pemerintahan yang sah. Para militerlah yang siap mempertaruhkan nyawanya demi keamanan negeri dan seluruh rakyat Indonesia. Sungguh lucu, jika tiba-tiba ada orang asing yang berimajinasi bahwa masih ada rakyat Indonesia yang punya pemikiran untuk melakukan kudeta. Rasa sakit atas penderitaan nenek moyang kami yang dijajah beratus-ratus tahun oleh orang-orang barat tidak akan pernah kami beri kesempatan untuk terulang kembali di negeri tumpah darah kami.

Kemenangan Anies-Sandi memimpin Ibu Kota Negara hanyalah salah satu hadiah karena masih punya kepedulian untuk memperjuangkan tegaknya hukum yang berkeadilan di negeri tercinta. Pencapaian tersebut adalah atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa diberikan kepada orang-orang yang mau bekerja dan juga mendekatkan diri kepada-Nya. Tidak sekedar kerja, kerja dan kerja, tapi tanpa ruh.

*Koordinator Komisi Politik PPI Dunia 2016/2017

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: