Memanfaatkan Waktu Luang Untuk Berdzikir Kepada Allah Ta’ala

Oleh :Kaisar Lahiya (Postgraduate Student at King Saud University)

Dzikir secara bahasa memiliki beberapa makna. Diantara maknanya yang paling terkenal ialah mengingat, mengucapkan  atau melafazkan. Dzikir dalam istilah syariat dapat bermakna menghidupkan hati sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam;

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ

Artinya;

“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya (berdzikir) dengan orang yang tidak mengingat (dalam dzikir), laksana orang yang hidup dengan orang yang mati ”.

Yakni barangsiapa yang ingin menghidupkan hatinya maka hendaklah dengan berdzikir.

Dzikir diantara salah satu jalan meraih ampunan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman

… وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah, maka Allah menyesuaikan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung” (QS. Al Ahzab: 35).

Telah disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwasanya ada golongan orang-orang mahrum. Yang dimaksudkan dengan golongan al mahrum ialah orang-orang yang diharamkan dari kebaikan boleh jadi karena kelalaian dan kemaksiatan yang ia larut di dalamnya.  Golongan orang-orang al mahrum dalam dalam bberdzikir ialah orang yang memiliki kesempatan dan waktu namun ia tidak mempergunakan kesempatan dan waktu tersebut untuk berdzikir. Kadangkala kita mendapati banyak diantara manusia yang mampu mencari nafkah dan mengumpulkan harta namua ia tidak menginfakkan ataupun bersedekah dengan hartanya padahal mereka adalah orang kaya dan berada. Demikian pula orang yang diberikan kemampuan dan kesempatan untuk berdzikir namun dia tidak memanfaatkan waktunya untuk berdzikir. Meskipun tidak dipungkiri ada juga orang-orang yang mempunyai kesempatan untuk berdzikir lalu dia memanfaatkan kesempatannya tersebut untuk memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala.

Sebagai bahan renungan Rasululullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

من قال سبحان الله وبحمده في يوم مائة مرة حطت خطاياه وإن كانت مثل زبد البحر.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya;

Barangsiapa yang membaca subhanallahi wabihamdihi (Maha Suci Allah dan dengan segala pujian bagi-Nya) dalam sehari seratus kali maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih lautan.

Seseorang mungkin saja bertanya apakah janji ini benar? Atau dengan pertanyaan lain apakah hanya dengan membaca kalimat sesederhana ini maka orang-orang benar-benar diampuni dosa-dosanya walaupun bagai buih di lautan? Maka jawabannya ialah balasan tersebut benar karena hadits ini adalah hadits yang shahih.

Dzikir adalah amalan yang sederhana dan mudah namun memiliki keutamaan yang agung, balasan yang sangat besar. Namun pertanyaannya adalah siapakah yang mendapatkan taufik untuk mengamalkannya?

Maka tidak mengherankan kita temukan kelalaian manusia dari berdzikir kepada Allah Ta’ala juga sebagaimana kelalaian orang kaya yang tidak bersedekah dengan hartanya. Persoalannya bukan hanya pada kesempatan beramal saja. Akan tetapi yang menjadi akar permasalahannya adalah ada pada taufik dan petunjuk untuk mengamalkannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ جُوَيْرِيَةَ رضي الله عنها: ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ، وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا، ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى، وَهِيَ جَالِسَةٌ، فَقَالَ: (مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا؟) قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ)

Dalam hadits ini diceritakan suatu ketika ummul Mukminin Juwairiyah radhiallahu anha sholat subuh dan duduk berdzikir hingga datangnya waktu dhuha. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali dan masih menemuinya seraya bersabda; Engkau masih duduk di tempat  sepeninggal saya tadi? Iya wahai Rasulullah jawabnya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda sesungguhnya engkau mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali jika ditimbang maka sangat memberatkan timbangan. Apakah itu wahai Rasulullah Tanya Juwairiyah radhiallahu anha? Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab “Subhanallahi wabihamdihi ‘adada khalqihi, waridho nafsihi, waridho nafsihi, wazinata arsyihi, wamidaada kalimatihi” sebanyak 3X. Lalu Juwairiyah membacanya di antara waktu setelah sholat subuh hingga terbitnya matahari.

Membaca dzikir ini hanya memerlukan waktu sekurang-kurangnya 10 detik. Jadi sebagaimana dalam berinfak ada yang diharamkan darinya maka demikian pula dengan dzikir. Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu sangat terbuka bagi setiap orang. Jika anda belum diberikan kelebihan harta untuk bersedekah maka masuklah dari pintu pahala kebaikan lainnya yaitu dengan banyak berdzikir.

Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

والكلمة الطيبة صدقة

Dan kalimat thoyyibah (perkataan yang baik) itu ialah sedekah.

Dan yang lebih utama adalah orang yang mampu berinfak dan diberikan kekuatan juga untuk banyak berdzikir. Namun Allah tidak menzhalimi seseorang pun dari hamba-hamba-Nya dan memberikan kepada yang lainnya pintu-pintu kebaikan tergantung pada kelebihan dan keutamaan masing-masing. Namun siapakah yang diberikan taufik untuk melakukan amalan sederhana ini namun ganjarannya sangat besar?

Dalam shahih attirmidzi disebutkan suatu hadits

أن رجلا قال: يا رسول اللهِ إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به، فقال: لا يزال لسانك رطبًا من ذكر الله تعالى.

Artinya:

 “Dari Abdullah bin Busr dia berkata: seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam telah banyak aku terima, oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu hal buat peganganku”. Beliau bersabda: “Tidak henti-hentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (yakni lidahmu selalu mengucapkannya).

Oleh karena itu hendaknya kita memperbanyak dzikir kepada Allah Azza wa Jalla serta lisan kita senantiasa basah dengan mengingat-Nya dalam dzikir.  Akhir kata semoga Allah Ta’ala memberikan taufik-Nya kepada kita untuk senantiasa berdzikir dan tidak menjadikan kita sebagai golongan orang-orang al mahrum.

Maraji’

‌Adzkar Asshobah Wal Masaa Riwayatan was Dirayatan, Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq Atthorifi hafizhahullah.

‌Hisnul Al Muslim, Syaikh Saad bin Ali bin Wahf Al Qahtani rahimahullah

‌Lathaif Al Fawaid, Syaikh Saad bin Turki Al Khatslan hafizhahullah

‌Syarh Khulasatu Al Hasna fi adzkar Asshobah Wal masaa, Syaikh Shalih bin Hamad Al Ushaimi hafizhahullah.

‌Syarh Al Baqiyatussholihat Min Al Adzkar ba’da Assholawat. Syaikh Shalih bin Hamad Al Ushaimi hafizhahullah.

Asrama KSU Riyadh, 2 Shafar 1441 H

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: