PERADABAN ISLAM, SAINS, DAN KHALIFAH (Bag.2)

Oleh : Dr Syamsuddin Arif (Direktur Eksekutif INSISTS Jakarta)

Ppmiriyadh.com – Kemunduran Peradaban Islam? Maaf, kalau saya tidak setuju dengan istilah stagnasi dan kemunduran. Meski hanya kiasan, kedua metafora tersebut tidak tepat. Kalau dalam bahasa Inggris kan stagnan itu artinya diam, tidak bergerak sama sekali, beku dan mati (still, motionless, inactive, moribund). Padahal kenyataannya tidak demikian, karena umat Islam di seluruh dunia masih terus bergerak dan aktif memperjuangkan cita-cita Islam. Contohnya di Indonesia saja ada NU, Muhammadiyah, al-Irsyad, Persis, Gontor, Hidayatullah yang jelas sekali menyangkal deskripsi negatif di atas. Begitu pula istilah ‘kemunduran’ yang juga kurang tepat. Kalau kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah itu dibilang mundur, lha orang-orang Amerika dan Eropa saat ini pun masih menyeru kepada cita-cita founding fathers mereka, prinsip-prinsip Revolusi Perancis, dan pemikiran tokoh-tokoh Abad Pencerahan dan Renaissance bahkan gagasan-gagasan filosof Yunani kuno – dan itu tidak mereka anggap sebagai kemunduran! Bangsa yang ingin maju perlu pedoman, perlu road-map. Untuk itulah mereka kembali kepada tradisi masa lalu untuk melangkah ke depan.

Yang terjadi sebenarnya bukan maju atau mundur, akan tetapi berjalan di depan atau di belakang. Yang di depan itu berjalan menuju ke sebuah destinasi. Sementara yang di belakang mengikuti saja. Nah, jika umat Islam mengekori orang Barat, sudah tentu orang Barat disebut terdepan (advanced) dan umat Islam dianggap terbelakang atau tertinggal. Padahal justru ini yang diwanti-wanti Rasulullah: jangan sampai umat Islam ikut-ikutan umat lain yang berjalan dengan tujuannya sendiri. Pertanyaannya, berapa banyak di antara kita yang paham dan sadar quo vadit  atau menuju ke mana peradaban Barat itu? Apakah makna negara maju? Maju terus hingga ke mana? Ataukah ia merupakan perjalanan yang tak ada ujung akhirnya?

Kembali ke pertanyaan di atas, umat Islam kini harus berhenti sejenak. Berhenti mengekori orang lain. Berhenti untuk introspeksi mau kemana sebenarnya kita ini. Mau maju kemana, mengapa dan untuk apa? Di sinilah pentingnya kita kembali menengok, menggali, dan mengkaji tradisi leluhur kita, warisan intelektual peradaban kita sendiri, agar bisa berkata seperti  Jacques Ellul dengan bangganya berkata: “I see no other satisfactory model that can replace what the West has produced” (Lihat bukunya: The Betrayal of the West, New York 1978, hlm. 19).

Sains memang penting untuk membangun sebuah peradaban, tetapi dengan itu saja tidak cukup. Peradaban berdiri di atas kekuatan metafisis, yaitu iman dan ilmu –orang Barat menyebutnya faith and knowledge, dan tentu saja kerja keras yang dalam perspektif kita adalah amal sholeh dan jihad fisabilillah. Dan ini dibenarkan oleh orang Barat yang mengakui bahwa peradaban mereka dibangun atas fondasi kepercayaan Yahudi-Kristen dan warisan intelektual-kultural Yunani-Romawi kuno. Sains hanya satu dari banyak komponen peradaban.

Dalam buku “Orientalis dan Diabolisme Pemikiran” (2008) disebutkan beberapa teori para ahli tentang nasib sains di dunia Islam. Salah satunya menurut Profesor Sabra dari universitas Harvard. Ia melihat perkembangan sains di dunia Islam setelah melewati fase keempat yang disebutnya sebagai ‘appropriasi’, lebih banyak mengarah pada pemenuhan kebutuhan praktis, sehingga peran sains menyempit sekadar menjadi pelayan agama (handmaiden of religion). Namun, bagi saya penjelasan ini tidak terlalu tepat. Sebab pada banyak kasus, asas manfaat justru berperan penting dalam mendorong perkembangan dan kemajuan sains. Teori kedua dikemukakan oleh David C. Lindberg dari universitas Wisconsin Madison. Menurutnya, ada tiga factor penghambat kemajuan sains dalam dunia Islam: pertama, oposisi kaum konservatif. Kedua, krisis ekonomi dan politik. Dan ketiga, keterasingan. Lindberg menyebut sebagai contoh kasus pembakaran buku-buku sains dan filsafat di Cordoba yang menyebabkan saintis Muslim ketakutan. Di sini memang kerap bercampur antara fakta dan fiksi, antara realitas dan imajinasi.

Saya sendiri berpendapat setidaknya ada tiga hal faktor yang menghambat kemajuan sains di dunia Islam sebelum zaman modern. Pertama, banyaknya saintis Muslim yang secara diam-diam telah meninggalkan Islam. Tren yang berlaku pada saat itu pun adalah free-thinking alias berpikiran liberal. Sebagian bahkan mengingkari kenabian Rasulullah. Ada juga yang terang-terangan minum khamar. Faktor kedua adalah krisis ekonomi dan politik. Konflik berkepanjangan seringkali disertai perang saudara yang mengakibatkan disintegrasi dan hancurnya ekonomi. Belum lagi serangan tentara salib yang memakan ribuan korban. Demikian pula invasi pasukan Mongol yang memporak-porandakan Baghdad pada tahun 1258 M. Faktor ketiga adalah gerakan sufi palsu yang menyebarkan dan menyuburkan irrasionalitas, sehingga masyarakat lebih tertarik kepada aspek-aspek mistis dan magis, kesaktian dan keajaiban daripada aspek ubudiyah, ilmiah, dan akhlak.

Lanjutkan membaca bagian 3..

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: