PERADABAN ISLAM, SAINS, DAN KHALIFAH (Bag.3)

Oleh : Dr Syamsuddin Arif (Direktur Eksekutif INSISTS Jakarta)

Ppmiriyadh.com – Lalu, apakah peradaban Islam bisa bangkit kembali? Seperti saya katakan di muka, peradaban Islam belum mati dan tidak beku. Peradaban Islam masih terus bergerak meski sebagai entitas masih berserak. Peradaban Islam kini belum berdiri sebagai satu entitas tunggal yang solid dan utuh. Salah satunya karena umat Islam yang menjadi penyangga peradaban tersebut sedang berusaha mengatasi krisis epistemologis, misorientasi, dan disorientasi teleologis, ndak jelas dan ndak tegas maunya ke mana. Mau ikut al-Qur’an takut dibilang ketinggalan zaman. Mau ikut Nabi takut dimusuhi. Mau melawan atau menolak takut dicap fundamentalis, ekstrimis, atau teroris. Mau mengekori Barat takut kebablasan. Pendek kata, harapan bangkit kembali bukan tidak ada. Optimisme kita didukung oleh hadis Nabi saw: layaghlibanna hadzal-amru!– bahwa peradaban Islam akan menang dan jaya. Juga dipacu oleh firman Allah dalam al-Qur’an: la tay asu min rawhillah!– jangan pernah putus harapan kepada pertolongan Allah.

Dan memang sudah tampak beberapa indikator ke arah itu. Sebutlah sebagai contoh perubahan demografi penduduk dunia sekarang ini. Kemudian fakta bahwa sumber-sumber energi dan kekayaan alam terdapat di negara-negara Muslim. Begitu pula proses desekularisasi yang berjalan sama kencangnya dengan proses Islamisasi di banyak belahan dunia. Maka insya Allah akan tiba saatnya nasrun minallahi wa fathun qarib. Kita hanya disuruh berbuat dan bekerja, dan tidak dituntut akan hasilnya. Waqul i‘malu fasayarallahu ‘amalakum! (QS 9:105). Laksanakan tugas kita sesuai dengan profesi dan kapasitas diri masing-masing.

Ada yang meyakini bahwa kejayaan dan kejatuhan peradaban Islam itu bergantung pada atau bahkan disebabkan oleh tegaknya dan runtuhnya ‘khilafah’ (sistem politik dan tata negara yang dipimpin oleh seorang ‘khalifah’). Memang benar, khilafah itu hanya istilah. Di dalam al-Qur’an sendiri, istilah khalifah itu lebih bernuansa teologis ketimbang politis. Khilafah atau istikhlaf  itu adalah pelimpahan kuasa Tuhan kepada manusia untuk mengatur kehidupan di bumi. Adapun dalam koleksi hadis Nabi, seperti kitab Sahih Muslim, yang kita temukan adalah istilah imarah untuk kepemimpinan politik, bukan khilafah. Sementara dalam literatur ilmu kalam yang sering dipakai adalah istilah imamah, tentang siapa yang berhak memimpin umat dan negara, syarat-syaratnya, dan sebagainya. Namun menurut saya, yang amat sangat esensial dalam tata kelola negara (siyasatul madinah)  adalah asas keadilan dan kebaikan (al-‘adl wal ihsan). Keadilan bukan persamaan. Dan kebaikan bukan berarti menuruti kehendak masyarakat atau suara rakyat (vox populi)  belaka. Adil di sini membutuhkan ilmu dan hikmah, meniscayakan amal dan adab, dan pastinya bersendikan petunjuk wahyu. Dengan demikian, soal apakah cita-cita menegakkan khilafah itu utopia atau dystopia menjadi tidak signifikan.

Berkenaan gerakan ISIS (Islamic State of Iraqi and Syiria) dan sepak terjang mereka di Timur Tengah, kita tidak boleh gegabah menyebut mereka bagian dari kebangkitan peradaban Islam ataupun mengecam mereka sebagai anasir-anasir perusak dan pengacau umat Islam. Hal ini dikarenakan tidak adanya informasi yang lengkap dan terpercaya. Berita-berita yang kita baca, dengar, atau lihat itu kebanyakan datang dari media orang fasiq. Untuk melakukan tabayyun tidak mudah. Untuk langsung memvonis, takut berdosa karena firman Allah: inna ba’daz-zanni itsmun! Maka dalam hal ini sikap terbaik adalah diam (tawaqquf). Yang jelas, membangun sebuah peradaban –apalagi yang Islami– itu mustahil tanpa melibatkan para ulama, yakni orang-orang yang paham benar seluk-beluk ajaran Islam mengenai aqidah, hukum, akhlaq dan adab politik, ekonomi dan seterusnya. Jika tidak begitu, maka seperti sabda Rasulullah saw: “idza wussidal-amru ila ghayri ahlihi fa intaziris-sa’ah!” – Jika suatu urusan dilimpahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah akibatnya.

Lanjutkan membaca bagian 4..

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: