PERADABAN ISLAM, SAINS, DAN KHALIFAH (Bag.4/selesai)

Oleh : Dr Syamsuddin Arif (Direktur Eksekutif INSISTS Jakarta)

Ppmiriyadh.com –  Model Negara Islam? Seringkali orang bertanya apakah ada negara yang dapat disebut Islami di zaman sekarang ini untuk kita jadikan contoh. Tentu saja hal ini mengandaikan kesepakatan pada tataran definisi. Apakah sebuah negara itu disebut Islami karena penduduknya Muslim (dengan atau tanpa melihat persentase, kualitas, dan posisi mereka di negara tersebut)? Ataukah sebuah negara itu disebut Islami lantaran nilai-nilai Islam terwujud secara fisik dalam tata kehidupan masyarakat dan tata ruang yang rapi, bersih, indah, dan sebagainya? Ataukah sebuah negara itu Islami karena Syariat Islam diberlakukan dalam kehidupan pribadi maupun sosial, dalam berpolitik maupun berekonomi, dalam sistem perundangan dan peradilan? Ataukah sebuah negara itu Islami sebab undang-undang dasar atau konstitusinya berasaskan Islam?

Meski belum sempurna, Malaysia adalah salah satu dari beberapa negara modern yang konstitusinya secara eksplisit menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Konsekuensinya, Yang Dipertuan Agung sebagai kepala negara (head of state) maupun Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan (head of  government) memikul amanah konstitusi untuk menjunjung tinggi agama Islam dan memelihara eksistensinya. Warga non-Muslim tetap dijamin hak-haknya untuk menganut dan mengamalkan agama mereka secara aman dan harmonis. Mungkin karena itu sekularisme sukar untuk berkembang di Malaysia.

Kedua, pemerintah Malaysia sangat peduli (concerned) dengan pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Ini dibuktikan dengan penyediaan bermacam-macam skema beasiswa dan pembangunan serta perbaikan fasilitas umum secara masif dan bertanggung jawab. Korupsi memang terjadi, namun tidak merajalela dan tidak menjalar ke mana-mana bagaikan kanker ganas seperti halnya di negara-negara lain. Ketiga, umat Islam di Malaysia pada umumnya mudah diatur, tunduk pada pemerintah dan patuh pada aturan hukum dan undang-undang. Sifat-sifat ini memudahkan mereka untuk mengelola banyak hal secara efektif dan efisien, dan menyelesaikan konflik secara bijak dan baik. Jarang sekali mengutamakan otot daripada otak. Seperti jawaban seorang diplomat mereka saat terjadi sengketa pulau dengan Indonesia: “We will cross that bridge when we come to it.” Wallahu a‘lam.

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: