Strategi dan Karakteristik Dakwah pada Masyarakat Pedesaan

Notulensi
Bagaimana Strategi dan Karakteristik Dakwah pada Masyarakat Pedesaan |
Ust. Muhammad Abduh Tuasikal

PPMI Riyadh
Program PPMI Riyadh mengundang alumni dari King Saud University maupun Imam
Saud University untuk berbagi ilmu dan pengalaman

A. Riwayat Hidup Singkat
Lulusan Teknik Kimia UGM 2007
Lulusan Master of Polymer Engineering King Saud University 2013
Tinggal di Ponpes Darushshalihin DIY
Aktif di Rumaysho.com dan Rumaysho TV

B. Materi Utama

– Awal mula dakwah di desa dari KKN UGM 2005 di Dusun Krambil, Desa Girisekar,
Kapanewon (Kecamatan) Panggang selama 2 bulan (Juli-Agustus)
– 2 pekan setelah wisuda UGM di 2017, menikah dengan istri yang merupakan
penduduk dusun yang berbeda dengan
– Bertekad tinggal di desa itu untuk belajar, biar tetap di Jogja.
– Sempat lanjut S2 Tekkim UGM, tapi terkendala beberapa hal
– Dapat tawaran dari kakak kelas yang di KSU
– Daftar 2008 selagi kuliah di UGM, lalu mundur dari UGM
– Baru berangkat 2010
– Ambil jurusan Tekkim. Tapi disarankan Doktor Said untuk ambil Polymer
Engineering (yang pada S1 tidak terlalu menguasai)
Satu jurusan Cuma berdua yang dari Indonesia
– Selesai 2013 Januari (sedang tesis). Maret 2013 balik Indonesia
– Ijazah S2 tidak sempat ambil, dititipkan ke Ust Muflih Safitra. Diterima Desember

– Sejak awal tidak punya keinginan untuk apply ke perusahaan, padahal termasuk
bagian dari lab Sabiq yang merupakan salah pabrik plastik terbesar di Saudi
– Bertekad ingin membangun sesuatu
– Bangun TPA. Mulai dari di Saudi dapat bantuan dari pembaca, membangun TPA. 3
ruangan, jamaah datang dari 5 masjid
– Istri mengelola sejak 2012. Punya background D2 PGSD
– Sekarang 5 level TPA

– Ada Izin resmi untuk TPA
– Ada izin resmi lain untuk Yayasan Darush Sholihin untuk galang dana dll
– Dibantu warga untuk ngajar warga
– Santri awal 80
– Akhirnya kabar beredar kemana2, walau ada fitnah
– Ada pengajian setelah pulang. Awalnya 10 orang malam Kamis. Orangtua dapat
pengaruh dari anak-anak yang TPA. Bahkan sampai yang sepuh juga ikut
Awalnya bapak2 aja, lalu ditambah ibu2
Sampai 300
Sambil dapet fitnah : teroris, aliran keras, aliran aneh
Makin banyak fitnah, orang makin banyak. Orang penasaran
Tahu dari mulut ke mulut.

– Bapak mertua beli tanah di sebelah masjid, agak terpisah, untuk dikelola
Memindahkan pengajian ke lapangan. Sambil masjid direnovasi.
2016 masjid jadi 2 lantai
Akan tetapi jamaah makin banyak
Akhirnya pengajian makin banyak, tetap di lapangan
Musim rame bisa 3000 orang.
Bada isya sampai 9. Walau selama 6 bulan pandemi ini stop
– Sering juga dateng tokoh-tokoh ke kita, atau kita datengi tokoh, ya kita dekati
tokoh.
Beberapa kali dateng juga orang dapet isu gak jelas, dateng, bawa temen, akhirnya
dijelaskan
Begitu juga dating perwakilan-perwakilan masjid

– Sering bangun masjid, renovasi masjid, kurban, zakat.
Tanpa donasi Saudi, tapi dari pembaca Rumaysho, dari kenalan
Bahkan adakan juga dauroh-dauroh. Dua sampai tiga hari. Biasanya di
akhir/penutupan mengadakan tabligh akbar datangkan Ustadz Kibar (Ustadz Syafiq,
Ustadz Firanda, dll). Bisa 3000 jamaah setiap tabligh akbar
– Akhirnya juga ada pengajian keliling di kecamatan-kecamatan lain
Ada juga di pusat di Wonosari
Setiap ahad. Bisa 2 kecamatan yang datang. Bisa 1000-2000 orang tergantung
kawasan

Strategi :
Akan disusun di risalah doctoral UNY
Ada tiga hal/faktor utama yang harus diperhatikan untuk menunjang dakwah di desa:
1. Ketokohan
2. Pendekatan dengan masyarakat
3. Finansial

1. Ketokohan :

Bisa dari keilmuan, akan disegani walaupun muda.
Bisa juga kerjasama dengan lembaga atau ormas lain
Tidak boleh menutupi diri. Mis di GK dengan Muhammadiyah
Ini sisi ta’liful qulub, pendekatan hati, bukan mengorbankan dakwah
Mis : ada kegiatan mereka kita bantu, mbangun, dll
Darush Sholihin lalu akan lakukan pembinaan, TPA, dll.
Sekarang ada MoU dengan Muhammadiyah dan UMY untuk asrama mahasiswa
Atau pendekatan ke tokoh masyarakat di GK, mulai dari tingkat RT ke atas
Nabi juga melakukan seperti itu, seperti Ketika beliau ke Thaif
Hargai ada ulama, kyai, ustadz, di daerah
Silaturahim, minta pendapat, minta petuah. Walaupun mungkin dari sisi kapasitas
ilmu kita lebih, tapi bisa jadi mereka lebih punya kewara’an, jamaah banyak, dll
Begitu juga tokoh pemerintah. Kadang bantu program pemerintah
Juga ke tokoh2 muda

Dengan ketakmiran di GK juga dekat. Sekitar 500 masjid, beri bantuan, beri
pengajian
“Sowanlah ke senior-senior di daerah masing2”
Jangan bosan belajar dari pengalaman orang dalam berdakwah, bisa orang
setempat atau orang lain
Menyesuaikan juga dengan budaya, bahasa setempat
Ust Abduh asli Ambon, juga harus belajar Bahasa Jawa

2. Pendekatan dengan masyarakat
Bersosialisasi, bagaimana mengetahui kebutuhan warga, bagaimana memahami
kesusahan mereka
Bagaimana juga kita menunjukkan kualitas Pendidikan kita ke warga-> Darush TPA
tapi ada kurikulum, ada raport yang jelas bisa dilihat orangtua
Guru-guru bukan lulusan pondok, diajar langsung oleh ustadz dan terikat silabus
Istilahnya diorangkan : kalau ada yang bisa ngajar, ajak ngajar. Manfaatkan potensi
mereka
Santri Darush Sholihin : 1000 santri. Tapi yang belajar langsung 300 santri.
Diajar oleh 40 ibu-ibu. Sifat keibuan lebih klop dengan anak-anak.
Warga ngajar warga
Tanpa biaya. Ada support dari yang lain. Bahkan ada mobil jemputan gratis
Memberikan full service, sehingga merasa senang di sini. Bahkan ada juga zakat
untuk santri.

3. Finansial
Sifat warga di desa, kalau tidak ada yang menanggung dana, ya mereka bakal turun
ke Jogja untuk cari kerja, dan itu bakal menyulitkan operasional pondok
Oleh karena itu Darush Sholihin berusaha profesional, ada absen guru, dibayar
sesuai jam. Sehingga silabus tercapai
Untuk nutupi yang ngajar dan pegawai lain, ada berbagai bisnis.
Macam-macam, misal ada toko bahan bangunan mau bangkrut, kita beli. Paling
besar ada usaha buku
Dikelola Bersama warga. Bahkan media-media juga warga yang ngelola.
Walau juga tetap ada donatur -> dan ini berbasis kepercayaan
Hanya menerima santri lokal, tidak ada santri luar. Banyak santri kalong (pagi
sekolah umum, sore-malam mondok)
Alasan : ingin membuat pesantren yang anti mainstream. Dan jika menerima
santri dari luar pasti fokusnya ke santri luar
Santri lokal, pengaruh besar pada masyarakat.
Padahal lingkungan itu sangat kurang dari sisi agama

C. Tanya Jawab
Penting untuk mendengarkan pengalaman dan nasihat dari alumni

1) M Hamka Mahasiswa UIM Divisi Humas PPMI Saudi
Bagaimana cara produktif padahal bukan background agama?
Allah mudahkan menulis dulu untuk saya
Tulisan sudah ada sejak 2007. Mulai bulletin At Tauhid, muslim.or.id
Baru berani ngisi kajian 2009, itupun materi bahasa arab dan lainnya yang
sederhana
Baru ngisi kajian yang bener-bener 2013 sepulang dari Saudi
Sekarang juga kalau mau ngisi sesuatu matangkan dulu di tulisan
Jadi kalau ada pihak yang minta ngisi belum ada tulisannya saya tidak berkenan
Menulis awalnya dari gemar membaca
Membiasakan diri untuk menulis
Walaupun untuk saat ini tulisan kurang produktif karena banyak di video
Akan tetapi sekarang diusahakan tulisan untuk ilmiah. Karena di S2 banyak dituntut
ilmiah, harus ada referensinya
Ambil S3 pun karena ingin belajar banyak kemampuan untuk menulis.
Diwajibkan membuat paper min 3.
Awal menulis sebenarnya mudah
Kelemahan mahasiswa Saudi kesulitan menulis Bahasa Indonesia
Solusi -> harus sering menerjemahkan
Saya [unya kebiasaan baca buku Arab maupun Indonesia. Berita juga
Inti kemampuan menerjemah : Ilmu Bahasa arab, Bahasa Indonesia sebagai
Bahasa target, dan istilah-istilah tertentu
Lulusan Mahad Ilmi pintar nulis karena punya media yang semuanya wajib ngisi di
situ. Awalnya terasa berat karena diwajibkan, lama-lama terbiasa

2) Faisal Reza Saputra, King Saud
Apa saja saran dan nasihat kepada mahasiswa di Saudi?
Selama 2,5 tahun saya benar-benar memanfaatkan waktu
Saya mahasiswa yang jarang kegiatan di luar kampus sebenarnya
Pagi sampai syuruq hafalan dan kajian di masjid sakan
Matham buka langsung masuk, makan, lalu siap-siap ke lab
Jam 7 harus masuk lab untuk penelitian atau kalau ada kelas
Mau ashar siap-siap pulang, dan dibolehkan, karena sudah buat jadwal dengan
dosen-dosen
Setelah ashar ke bawahid, ke majelis Syaikh Al Fauzan
Pulang jam 9, kalau beruntung dapet jatah makan malam, atau stok makanan siang
disimpan untuk malam
Jarang ada kegiatan tambahan
Karena menganggap 2,5 tahun ini terbatas sekali
Tempat-tempat di Riyadh jarang dikunjungi, bahkan jarang tahu
Kecuali kalau ada acara-acara dari PPMI
Atau kumpulkan barang-barang elektronik untuk hobi
Atau ke maktabah, baca-baca, koleksi buku. Ada uang, beli buku

3) Adam Prabowo, Sulaiman Ar Rajhi, Kedokteran
Sekarang kan Darush Sholihin sudah besar, tantangan terberat apa?
Makin tinggi, anginnya makin rebut
Bukan dari serangan sih, fitnah sudah berkurang. Ada pun dianggap biasa
Tapi dari sisi pengembangan dan pendekatan
Banyak yang mau mendekati, mulai politik, bisnis, dll. Padahal kami cuma mau
dakwah aja
Mau pilkada, banyak yang dekati karena punya massa. Ya saya terima semua.
Karena sebagai pihak yang dipandang di GK, saya harus terima berbagai pihak
Intinya mereka mau minta doa restu
Gimana memanage pendekatan di sini dan sana

4) Dani, Kulonprogo
Materi yang diajarkan di awal2 ke warga, sebaiknya apa? Dan bagaimana
mengemas?
Warga yag pasti diterima adalah ngajarkan Al Quran dan Iqra, makanya pertama
mulai dengan TPA
Masuk juga awalnya gantikan mertua yang biasa ngajar Al Quran
Gak usah bahas yang berat, bahas buku. Saya bahas buku baru setelah bertahuntahun

5) Pekerja Profesional di Jeddah
Konsep Darush Sholihin bagus diterapkan di desa-desa. Apakah memungkinkan
Darush Sholihin memberi sharing silabus TPA?
Sudah saya terapkan, bahkan saya jadikan buku bahkan disertasi S3.
Ingin dengan S3 ini saya bisa dapet formula yg tepat
Saya telaah di jurnal-jurnal, kok belum dapet TPA punya silabus. Paling Cuma
beberapa saja, dan itu jadi dasar silabus Darush Sholihin.
Padahal silabus penting banget
Selama ini TPA cuma ajarkan ngaji, tepuk-tepuk, hafalan doa dan surat sedikitsedikit.
Padahal di situ bisa dimasukkan aqidah, akhlak, fiqih ibadah, dll
Kalau mau lihat pelajaran-pelajarannya, bisa dilihat di Ruqoyyah.com

6) Martini (?), Pangkalpinang, Babel
Bagaimana kiat-kiat mengatasi permasalahan dalam dakwah yang terbentur dengan
kebiasaan masyarakat sekitar?
Intinya pada kesabaran dan pintar mengatur strategi
Sesuatu tidak mesti disampaikan di awal
Di desa saya banyak belajar juga, belajar dari orang-orang sini
Yang rawan bagi saya maupun jamaah bisa saya tunda jawabannya
Kalau mau jawaban yang lebih puas bisa forum pribadi dengan ustadz
Kesalahan Sebagian dai, menyampaikan semua terburu2. Bisa bikin jamaahnya
konflik dengan keluarga, teman. Tempat kerja, dll

7) Faisal Reza Saputra
Antum kan fokus membangun dakwah dengan tim. Bagaimana membentuk tim yang
solid?
Tim itu terbentuk sendiri, karena ada kebutuhan. Saya sendiri tidak punya asisten
pribadi
Nanya dan hubungi ya langsung karena saya tidak suka pakai perantara
Ada tim ngelola pesantren dan pengajaran, tim Rumaysho TV
Ini pun yang jadi tim anak2 desa yang mau belajar, pegang kamera
Yang pegang kantor juga warga desa
Mereka juga rata-rata bukan sarjana unggulan, tapi punya kemampuan apa, ya itu
kita kembangkan
Kita amanat, mereka juga akan terpengaruh jadi amanat

8) Muhammad Affan Muhammad Amin, King Saud
Bagaimana pengelolaan dana agar terserap dengan baik?
Intinya ada pemasukan, laporan jelas
Orang sudah tau itu amanat, tinggal nunggu laporan
Donasi : perencanaan jelas, pelaporan jelas, amanat
Tiga di atas, kalau bener, ngelola dana apapun orang percaya
Mbangun : Kita step by step. Step 1 sekian M, step 2 sekian M, dst
Orang ngeliat, bakal bantu terus setelahnya
Butuh dana apapun, orang yang justru bakal nyari untuk nyumbang
Ingat, kita juga harus memberi manfaat ke donatur. Timbal balik
Mis di medsos videonya berkualitas
Semua benar-benar serius

9) Ghani Asadudin, KSU
Saya kebetulan aktif di pendidikan, mengajar mahasiswa. Mohon arahan dari Ustadz
untuk strategi dakwah ke mahasiswa?
Tidak harus menggunakan TPA. Bisa gunakan seperti di mahad ilmi
Dakwah tidak hanya melihat kita sampaikan apa. Tapi kita juga harus liat tingkatan
umur
Lihat apa yang disenangi kalangan itu. Mis mahasiswa Sukanya tentang perjodohan
Baru masuk pelan-pelan, tarik untuk belajar Al Quran, B Arab
Yang penting mereka mau di majelis ilmu sudah bagus

10) Izzudin, Lampung, UIM
Bagaimana tips-tips menumbuhkan jiwa sosial?
Harus banyak di daerah yang susah
Tinggal di desa, merasakan kesusahan warga

11) Pak Dian, professional dari Malaysia, sekarang di Riyadh
Dalam hidup ustadz, bagian mana yang paling membentuk karakter ustadz
membangun Darush Sholihin?
Orangtua, dengan doa
Dan istri, yang orang Jawa, mengubah karakter yang dulu keras lebih ke lemah
lembut dan memikirkan sesuatu pelan-pelan

12) Ilham
Bagaimana jika masyarakat yang kita hadapi sangat fanatik ke tokoh atau ormas
tertentu?
Agak sulit ini. Kalau udah fanatik banget
Kalau tokoh ini masih bisa saya dekati, ya saya dekati
Kalau gak bisa, yang penting kita jangan ganggu dia. Dakwah masih bisa jalan
Pendekatan : misal saling bantu kalau ada proyek, kalau ada acara

D. Kalimat Penutup
Jangan lupa dakwah ke orang-orang terdekat kita
Kalau orang-orang terdekat di desa, ya dakwahkan dulu di situ. Daripada dengan
kota yang sudah banyak yang ngisi
Desa butuh perhatian dan didakwahi
Banyak yang titelnya tinggi, lulusan Timteng, tapi kurang ke desa
Semoga jadi amal jariyah untuk kita semua

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: